Sastra

Jomblo? Kasihan, Yah!

By Dhila Paruki – rumahfrasa.wordpress.com

Sastra – Yes or Nay..

Tentu tidak, ya. Jomlo tidak sekasihan itu. Kalau hanya soal makan nggak ada yang siapkan, lah kan udah gede. Kalau butuh bahu kan ada bahu jalan juga buat menyandarkan segala beban yang ada. Hahaha.

“Kasihan ya belum nikah padahal sudah lama selesai kuliah.”

“Nikah saja. So mo kiamat.”

“Menikah saja supaya ada yang selamatkan kalau gempa.” (ya iya kalau nyelamatin. Kalau mati duluan yah gimana)

Sebegitu menderita kah orang liat kita jalan sendirian. Belanja sendirian. Bobok sendirian. Masak sendirian. Cari duit sendirian. Gibahin orang sendirian lewat tulisan kayak gini. Hahaha. Masalah buat loe? Ha? Masalah? Ngajak ribut nih?

Saking dianggap kasihan jadi jomlo, banyak nih yang mau jodoh-jodohin kita ke jomlo lainnya yang dianggap syusah cari pasangan. Miris dan menakutkan. Hal yang menakutkan dari perjodohan adalah si mak comlang dengan mudahnya memanipulasi data kita. Haha. Bilang kita baiklah, shaleha, beriman, bertakwa, anak rumahan.

Poin terakhir sungguh menggelitik. Anak rumahan ini gimana sih maksudnya. Emang kalau bukan anak rumahan berarti dia punya banyak dosa ya? nggak baik? Sebegitu sempitnya kita menilai orang hanya karena dia sering keluar rumah dan dianggap tidak menjaga diri.

Data yang dimanipulasi tadi, akhirnya bikin orang berekspektasi lebih ke kita, ya kan? Hanya mendapat informasi tentang diri kita dari orang lain itu mengerikan tau nggak sih. AKU NGGAK BISA DIGITUIN. Mengenal karena memang kenal lebih baik dari pada hanya mengenal lewat lidah berbisa orang lain.

Susah bedain orang perhatian sama iseng seenak jidatnya mau ngejodohin orang. Apa salahnya ngejomlo? Padahal kan kita ini jomlo yang ramah lingkungan. Bukan sampah masyarakat yang harus diubah statusnya jadi “nikah” biar nggak nyampah.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close